20.11.2024
Malam ini, kantor terasa seperti lembah es yang sunyi. Bukan pendingin udara yang jadi musuh, tapi dingin alami, si Angin Malam yang berbisik tajam. Ia menyelinap, menusuk tanpa ampun, menuntut kehangatan yang tak bisa ku beri.
Tangan dan jemariku sudah maksimal berjuang. Lapisan demi lapisan ku kenakan: dari kaos dalam yang tersembunyi, kemeja kerja yang rapi, hingga hoodie tebal, semuanya ku jadikan benteng. Namun, benteng itu runtuh. Dinginnya menembus, mengancam untuk membekukan semangat.
Maka, jurus terdesak pun ku ambil: Si Ninja Sarung.
Dengan kain andalan yang biasa melilit pinggang, ku buat jubah darurat. Ku tarik ia tinggi-tinggi, membungkus seluruh tubuh, dari ujung kaki yang menggigil hingga mahkota kepala. Hanya tersisa sedikit ruang, tempat mata mengintip, fokus pada cahaya layar monitor. Di sana, aku duduk—seperti mumi yang bangkit hanya untuk mengejar deadline laporan. Puitis? Mungkin. Konyol? Jelas.
Puncaknya, seorang rekan melintas. Langkahnya terhenti di depan siluet sarungku. Ada bingung, aneh, dan sedikit khawatir di matanya. "Kamu kenapa?" tanyanya lugu. Tawa renyah yang sedikit gemetar jadi jawabanku.
Aku tahu, di mata orang lain, aku mungkin sedang melakoni ritual aneh atau sedang sakit parah. Padahal, ini hanyalah usaha sekuat tenaga untuk menghadirkan sedikit panas dalam kepingan dingin ini.
Ku coba memanaskan tubuh dari dalam. Kuah panas dari mi instan yang seharusnya mi goreng (biarlah ini jadi rahasia dapur darurat), dan balsam yang ku balurkan ke mana-mana, berharap ia membangkitkan api kecil.
Memang benar kata orang tua: badan yang sedang drop akan lebih mudah diusik oleh dingin. Ini bukan hanya masalah angin, tapi sinyal dari raga yang minta istirahat.
Semoga besok, tubuh ini pulih. Agar aku tak perlu lagi bersembunyi dalam kostum sarung dan mengejutkan siapa pun yang kebetulan lewat. Doakan saja, kawan. Semoga hangat segera kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar