Rabu, 19 November 2025

Dingin memaksaku berubah menjadi ninja sarung!

20.11.2024

Malam ini, kantor terasa seperti lembah es yang sunyi. Bukan pendingin udara yang jadi musuh, tapi dingin alami, si Angin Malam yang berbisik tajam. Ia menyelinap, menusuk tanpa ampun, menuntut kehangatan yang tak bisa ku beri.

Tangan dan jemariku sudah maksimal berjuang. Lapisan demi lapisan ku kenakan: dari kaos dalam yang tersembunyi, kemeja kerja yang rapi, hingga hoodie tebal, semuanya ku jadikan benteng. Namun, benteng itu runtuh. Dinginnya menembus, mengancam untuk membekukan semangat.

Maka, jurus terdesak pun ku ambil: Si Ninja Sarung.

Dengan kain andalan yang biasa melilit pinggang, ku buat jubah darurat. Ku tarik ia tinggi-tinggi, membungkus seluruh tubuh, dari ujung kaki yang menggigil hingga mahkota kepala. Hanya tersisa sedikit ruang, tempat mata mengintip, fokus pada cahaya layar monitor. Di sana, aku duduk—seperti mumi yang bangkit hanya untuk mengejar deadline laporan. Puitis? Mungkin. Konyol? Jelas.

Puncaknya, seorang rekan melintas. Langkahnya terhenti di depan siluet sarungku. Ada bingung, aneh, dan sedikit khawatir di matanya. "Kamu kenapa?" tanyanya lugu. Tawa renyah yang sedikit gemetar jadi jawabanku.

Aku tahu, di mata orang lain, aku mungkin sedang melakoni ritual aneh atau sedang sakit parah. Padahal, ini hanyalah usaha sekuat tenaga untuk menghadirkan sedikit panas dalam kepingan dingin ini.

Ku coba memanaskan tubuh dari dalam. Kuah panas dari mi instan yang seharusnya mi goreng (biarlah ini jadi rahasia dapur darurat), dan balsam yang ku balurkan ke mana-mana, berharap ia membangkitkan api kecil.

Memang benar kata orang tua: badan yang sedang drop akan lebih mudah diusik oleh dingin. Ini bukan hanya masalah angin, tapi sinyal dari raga yang minta istirahat.

Semoga besok, tubuh ini pulih. Agar aku tak perlu lagi bersembunyi dalam kostum sarung dan mengejutkan siapa pun yang kebetulan lewat. Doakan saja, kawan. Semoga hangat segera kembali.

Senin, 17 November 2025

Senandung di Tengah Badai: Balada Sunyi di Ruang Kerja



Ada kalanya, ruang kerja yang seharusnya menjadi suaka bagi konsentrasi, berubah menjadi panggung bagi simfoni yang tak diundang. Saya pernah berdiri di tengah riuh itu. Seorang rekan, mungkin dengan niat berbagi kebahagiaan, memutar musik dalam volume yang menembus dinding fokus saya. Pekerjaan terhampar di depan mata, namun pikiran saya buyar, terpecah oleh gelombang bising yang tak diminta.

Hati saya terbelah. Di satu sisi, ada hasrat untuk menegur, namun di sisi lain ada keengganan untuk merusak harmoni sosial yang rapuh. Saya tidak ingin menjadi awan mendung di langit ceria milik orang lain, tapi saya juga tak ingin badai sonik itu memadamkan api produktivitas saya.

Maka, saya memilih jalan yang lebih senyap. Sebuah solusi kreatif pun terlintas. Sepasang earphone menjadi perisai saya. Saya menyambungkannya ke gawai, dan membiarkan melodi pilihan saya sendiri mengalun lembut, membangun sebuah benteng ketenangan pribadi. Ajaib. Invasi audio itu mereda, tergantikan oleh alunan yang menenangkan jiwa. Saya kembali menemukan pulau fokus saya, terapung damai di tengah lautan kerja.

Tanpa satu kata pun terucap, sebuah resolusi tercipta. Saya tak perlu khawatir telah mengusik rekan saya, dan dia pun tak perlu merasa terusik. Saya hanya menemukan jalan damai untuk diri saya sendiri. Dan itu berhasil.

Namun, di balik damainya solusi pribadi, sebuah pertanyaan tetap menggema: Mengapa? Mengapa sebagian jiwa merasa perlu berbagi euforia mereka dengan volume penuh? Apakah itu murni sebuah pesta yang ingin mereka bagikan, sebuah keyakinan tulus bahwa harmoni yang mereka nikmati adalah harmoni universal? Mungkin mereka lupa, bahwa selera adalah taman pribadi yang tak selalu sama bunganya.

Atau, adakah ini tentang dominasi? Sebuah cara halus untuk menegaskan kendali atas teritori bersama, sebuah deklarasi tanpa kata, "inilah duniaku, dengarkanlah aku"?

Apapun akarnya, akarnya tetap satu: kita hidup dalam ekosistem bersama. Hak untuk berekspresi berhenti di batas telinga orang lain. Saya akui, saat itu ada gempa emosi yang tertahan di dada. Ada frustrasi dan amarah yang terpaksa saya telan menjadi diam. Itu adalah pertarungan batin yang tak mudah.

Saya tahu, saya tidak berlayar sendirian dalam kapal resah ini. Bisikan-bisikan lain pun terdengar. Bahkan ada yang melempar cemooh, "Lagunya sudah jelek, diperkeras pula." Tapi, haruskah kita membalas bising dengan caci? Bukankah itu hanya akan menciptakan polusi baru?

Melodi yang indah di telinga si A adalah kebisingan di telinga si B. Itulah takdir perbedaan. Tugas kita bukanlah menghakimi, tapi mencari harmoni di tengah simfoni yang beragam.

Saya merenung. Perisai earphone saya adalah sebuah benteng, bukan sebuah jembatan. Ia melindungi saya, namun ia juga mengisolasi saya. Mungkin, solusi pribadi ini adalah babak pertama. Babak selanjutnya, yang lebih sulit namun lebih sejati, adalah membangun jembatan pemahaman. Mungkin ada cara untuk berdialog, bukan dengan amarah yang tertahan atau cemooh yang tajam, tapi dengan kejujuran yang lembut. Bukan "Suaramu mengganggu," tapi "Aku sedang butuh fokus, bisakah kita menemukan jalan tengah?" Sebab harmoni sejati di ruang kerja tidak tercipta di dalam sumbat telinga kita masing-masing, tapi di ruang bersama yang kita rawat.

Kisah ini saya bagi bukan untuk mendakwa. Ini adalah sebuah pengingat lembut bahwa di setiap persimpangan masalah, ada banyak jalan terbentang. Konfrontasi bukanlah satu-satunya bahasa. Kadang, solusi paling elegan adalah solusi yang paling sunyi, yang lahir dari kreativitas dan kemauan untuk menciptakan kedamaian—meski hanya untuk diri sendiri.

Kamis, 02 Oktober 2025

Remake Catatan 3 Oktober : Satu Ekor yang Tak Kembali


 Satu Ekor yang Tak Kembali

Siang itu, matahari membakar langit dengan teriknya. Di sebuah peternakan kecil di pinggir desa, seorang pemuda dengan penuh perhatian menyiapkan pakan untuk ternaknya. Ia mencampur dedak baru, sayuran sisa, dan beras jagung yang sudah dimasak dalam sebuah bak besar. Tangan-tangannya tak henti mengaduk, sementara peluh membasahi wajahnya yang lelah.

"Ya Allah, panasnya," gumamnya lirih, mengusap peluh yang mengalir deras.

Tak lama kemudian, adzan Dzuhur berkumandang dari kejauhan. Pemuda itu segera menangkap ayam-ayam yang sejak pagi berkeliaran. Ia memasukkan mereka satu per satu ke kandang, lalu memberikan pakan dengan penuh kasih. Ia juga menyirami minum untuk ayam dan bebek yang hidup di kandang sebelah.

Setelah semua tertata, ia melepas beberapa ayam yang belum sempat ia umbar. Mereka berlari bebas, mengepakkan sayap dengan gembira. Pemuda itu tersenyum puas melihat kebahagiaan sederhana di halaman ternaknya. Namun, waktu berlalu, dan ia bergegas meninggalkan peternakan untuk menjaga warung milik saudaranya di pasar.

Suasana warung saat itu sunyi. Hanya ada seorang pedagang sembako yang terlelap di bangku sebelah. Keheningan pecah oleh suara tetangga yang memanggil ayam-ayamnya dengan lantang, "Yak yak yak yak yak yak!" Suara itu membahana, mengagetkan pedagang yang sedang tidur dan pemuda peternak yang sedang berjaga.

Suara panggilan itu membangkitkan keresahan di dada pemuda. Ia teringat ayam-ayamnya yang tadi dilepaskan, dan kekhawatiran mulai merayapi pikirannya. Ia tetap di warung, namun jantungnya berdegup kencang. Setelah beberapa menit yang terasa lama, kecemasannya tak tertahan lagi. Ia meninggalkan warung, berlari menuju peternakan.

Di bawah rindang pohon pisang, ia menemukan ayam-ayamnya berteduh. Lega menyelimuti dada, tetapi ketenangan itu segera terganggu. Ia menghitung, ternyata ayamnya berkurang satu ekor. Yang seharusnya enam, kini hanya lima.

Panik dan gelisah, ia mulai mencari. Menyusuri setiap sudut peternakan, memanggil dengan suara lirih. Namun, ayam yang hilang tak kunjung ditemukan. Dari kejauhan, suara ibunya memanggil, "Nyari apa, Le?"

"Ayamku kurang satu, Bu," jawabnya dengan suara yang hampir patah.

Ibunya menunjuk seekor ayam yang sedang mencari makan, namun bukan itu ayam yang dimaksud. Pemuda itu segera beranjak ke selokan yang kotor dan berbau busuk, tempat biasa ayam mencari makanan. Dengan tekad yang kuat, ia menyusuri got itu, tapi hasilnya nihil.

Ia beralih ke halaman pasar, menyusuri lorong-lorong yang ramai dulu dilalui orang, kini sepi dan lengang. Panggilannya berbalas sunyi. Ia kembali ke peternakan, mencoba mencari lagi, namun sia-sia. Kaki dan tubuhnya mulai lelah, namun hatinya tak rela menyerah.

Kembali ke warung, ia menjumpai pedagang sembako yang bertanya, "Nyari apa, Mas?"

"Ayamku kurang satu," jawabnya singkat.

"Mungkin sedang bermain di tempat lain, nanti balik," sahut si pedagang mencoba menghibur.

Pemuda itu berusaha menenangkan diri, memainkan ponsel, tapi pikiran dan perasaannya masih gelisah. Saat saudaranya datang menggantikan menjaga warung, ia segera kembali mencari ayamnya.

Kini ia lebih teliti, mengelilingi setiap sudut, bahkan melompati tembok pembatas peternakan untuk memasuki area bekas pabrik pupuk yang penuh reruntuhan dan semak liar. Ia memanggil dengan suara lirih, menelusuri tiap jalan setapak, namun yang ditemuinya hanyalah sepi dan lelah.

Putus asa mulai menggerogoti. Ia kembali ke dapur, mengambil piring untuk makan, tapi nafsu hilang. Ia membiarkan nasi tetap di piring, kembali ke halaman, menangkap dan mengandangkan semua ayam yang tersisa. Tak ingin kehilangan lagi.

Tiba-tiba ia teringat, ia belum menunaikan shalat Dzuhur. Ia bergegas wudhu dan menunaikan shalat dengan hati yang masih bergejolak. Dalam doanya, ia memohon ketenangan dan keikhlasan. Ia merenung, mengapa ayamnya bisa hilang begitu cepat? Baru beberapa jam ia lepas dari kandang, tiba-tiba lenyap tanpa jejak.

Dalam hati ia menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa aku tak lebih menjaga mereka? Kenapa mereka bermain bebas?” Namun, perlahan ia memahami bahwa ayam pun punya naluri ingin menjelajah dan bermain. Mungkin ia yang kurang perhatian.

Dengan hati yang mulai lapang, ia melepas ayam-ayamnya kembali ke area pasar, berharap yang hilang bisa bergabung dengan kawanan. Namun, usaha itu sia-sia. Ia kembali mengandangkan mereka dan memberi makan.

Ketika adzan Ashar berkumandang, pemuda itu menatap kosong ke halaman yang kosong. Ayam yang hilang tak juga kembali. Ia pasrah, menerima kenyataan.

Namun, hatinya tak berhenti bertanya-tanya, apalagi setelah pagi tadi anak entok pun lenyap dengan cara yang sama. Apakah mereka dicuri? Ataukah diterkam binatang buas?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap dalam diam, menemani langkahnya yang kembali ke kesibukan sehari-hari, dengan hati yang belajar untuk ikhlas dan terus berharap.

Telur Ayam di Ujung Kesabaran


 Seperti pagi-pagi sebelumnya, matahari belum tinggi saat Ani melangkah menyusuri jalanan desa dengan langkah ringan. Di pelukannya tergenggam sebuah bak kecil berisi telur-telur ayam kampung, segar dari peternakan keluarga. Udara pagi yang masih basah oleh embun menyambut langkahnya, sementara ia menebarkan senyum kepada siapa saja yang dijumpainya—dari pedagang kaki lima yang tengah membuka lapak, pemilik warung, hingga ibu-ibu yang sibuk menawar harga sayur.

Satu per satu, telur itu berpindah tangan. Ada yang membeli sebutir, dua butir, lima butir, bahkan sepuluh. Perlahan namun pasti, dagangannya berkurang. Yang awalnya tiga puluh butir, kini hanya tersisa sebelas. Ia berhenti sejenak di bawah pohon rindang dekat pasar, merapikan lembaran-lembaran uang receh yang didapat—seribuan, dua ribuan, hingga sepuluh ribuan, semuanya terselip rapi di sakunya.

Namun, ketika hendak melanjutkan langkah, seseorang menghadangnya. Buk Juncuk—tetangga yang dikenal galak mulutnya, istri dari mantan ketua RT yang kini jarang keluar rumah—berdiri di hadapannya dengan tatapan sinis.

Bukan sapaan yang keluar dari bibirnya, melainkan tuduhan yang tajam dan menusuk.

“Hei! Kalau telur busuk, jangan dibilang bagus! Buang aja, jangan dijual!” suaranya melengking, menggantung di udara pagi yang baru saja tenang.

Ani, yang tadi tersenyum, kini wajahnya runtuh seperti daun kering tersapu angin. Ia terdiam, tersentak, tapi tidak membalas. Hatinya bergetar, namun mulutnya tetap tenang. Dengan sabar, ia menjelaskan bahwa telur-telur itu baik, segar, tidak satu pun yang rusak. Ia mengeluarkan bukti—memperlihatkan warna kulitnya yang bersih, mempersilakan mencium aroma yang masih segar, bahkan menyarankan untuk mengguncangnya agar terasa padat.

Orang-orang sekitar mulai memperhatikan. Buk Juncuk, yang merasa disorot dan terpojok, buru-buru mengganti serangannya. Kali ini ia berkata, Ani seharusnya memberi diskon. Jualan kok mahal, katanya.

Ani hanya tersenyum. Senyum yang tidak lagi hanya ramah, tapi juga tenang dan kuat.

“Iya, saya tahu. Kalau ada yang beli banyak dan minta diskon, pasti saya kasih. Tapi kebanyakan orang sepakat dengan harga yang saya tawarkan. Bahkan, ada yang memberi lebih. Lima butir seharusnya dua belas ribu lima ratus, tapi mereka kasih lima belas ribu. Saya terima aja, itu kan inisiatif mereka,” ucapnya lembut namun jelas.

Buk Juncuk tercekat. Wajahnya menegang, lalu memudar, seperti air yang kehilangan panas. Tanpa sepatah kata lagi, ia pergi, melangkah cepat seolah dikejar rasa malu yang menempel di punggungnya.

Hari pun beranjak siang. Telur di dalam bak kecil itu akhirnya habis tak bersisa. Ani pulang dengan langkah ringan, berlari kecil menahan girang, sesekali meraba saku celananya memastikan uang hasil jualan tak terjatuh. Sesampainya di rumah, ia langsung menemui ibu dan abangnya, menceritakan peristiwa yang mengguncang hatinya pagi itu.

“Ya Allah... segitu besarnya kebencian orang itu pada keluarga kita. Sampai-sampai tega menuduh telur kita busuk,” keluhnya lirih, setengah bertanya, setengah bingung.

Ibunya hanya mengangguk pelan, lalu berkata, “Nak... seperti kata Pak Ustaz tadi malam, orang yang tidak punya kegiatan, hatinya akan dipenuhi iri. Ia akan lebih sibuk mengurusi hidup orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Makanya, kita harus menjaga hati, sibukkan diri dengan ibadah. Jangan sampai iri dan dengki menguasai jiwa kita, karena dari sanalah kebencian dan fitnah bermula.”

Ani menatap ibunya dan tersenyum. Ada ketenangan yang menyelimuti dadanya. Namun abangnya, yang duduk di pojok ruangan, masih menyimpan bara.

“Terus, kamu nggak tunjukin telurnya? Gak kamu senterin di muka orang itu?” tanyanya, geram.

“Udah kok,” jawab Ani. “Pas dia bilang jelek, aku teropong semua telurnya. Warnanya terang, kuning telurnya utuh, nggak ada bau aneh. Malah aku suruh Buk Juncuk guncangin telurnya—dan jelas terasa padat, nggak ada bunyi. Itu tandanya telur masih bagus.”

Abangnya mendengus. “Ya, baguslah. Tapi tetap aja... jadi orang kok sukanya ngurusin hidup orang lain. Nuduh-nuduh, iri, dengki!”