Satu Ekor yang Tak Kembali
Siang itu, matahari membakar langit dengan teriknya. Di sebuah peternakan kecil di pinggir desa, seorang pemuda dengan penuh perhatian menyiapkan pakan untuk ternaknya. Ia mencampur dedak baru, sayuran sisa, dan beras jagung yang sudah dimasak dalam sebuah bak besar. Tangan-tangannya tak henti mengaduk, sementara peluh membasahi wajahnya yang lelah.
"Ya Allah, panasnya," gumamnya lirih, mengusap peluh yang mengalir deras.
Tak lama kemudian, adzan Dzuhur berkumandang dari kejauhan. Pemuda itu segera menangkap ayam-ayam yang sejak pagi berkeliaran. Ia memasukkan mereka satu per satu ke kandang, lalu memberikan pakan dengan penuh kasih. Ia juga menyirami minum untuk ayam dan bebek yang hidup di kandang sebelah.
Setelah semua tertata, ia melepas beberapa ayam yang belum sempat ia umbar. Mereka berlari bebas, mengepakkan sayap dengan gembira. Pemuda itu tersenyum puas melihat kebahagiaan sederhana di halaman ternaknya. Namun, waktu berlalu, dan ia bergegas meninggalkan peternakan untuk menjaga warung milik saudaranya di pasar.
Suasana warung saat itu sunyi. Hanya ada seorang pedagang sembako yang terlelap di bangku sebelah. Keheningan pecah oleh suara tetangga yang memanggil ayam-ayamnya dengan lantang, "Yak yak yak yak yak yak!" Suara itu membahana, mengagetkan pedagang yang sedang tidur dan pemuda peternak yang sedang berjaga.
Suara panggilan itu membangkitkan keresahan di dada pemuda. Ia teringat ayam-ayamnya yang tadi dilepaskan, dan kekhawatiran mulai merayapi pikirannya. Ia tetap di warung, namun jantungnya berdegup kencang. Setelah beberapa menit yang terasa lama, kecemasannya tak tertahan lagi. Ia meninggalkan warung, berlari menuju peternakan.
Di bawah rindang pohon pisang, ia menemukan ayam-ayamnya berteduh. Lega menyelimuti dada, tetapi ketenangan itu segera terganggu. Ia menghitung, ternyata ayamnya berkurang satu ekor. Yang seharusnya enam, kini hanya lima.
Panik dan gelisah, ia mulai mencari. Menyusuri setiap sudut peternakan, memanggil dengan suara lirih. Namun, ayam yang hilang tak kunjung ditemukan. Dari kejauhan, suara ibunya memanggil, "Nyari apa, Le?"
"Ayamku kurang satu, Bu," jawabnya dengan suara yang hampir patah.
Ibunya menunjuk seekor ayam yang sedang mencari makan, namun bukan itu ayam yang dimaksud. Pemuda itu segera beranjak ke selokan yang kotor dan berbau busuk, tempat biasa ayam mencari makanan. Dengan tekad yang kuat, ia menyusuri got itu, tapi hasilnya nihil.
Ia beralih ke halaman pasar, menyusuri lorong-lorong yang ramai dulu dilalui orang, kini sepi dan lengang. Panggilannya berbalas sunyi. Ia kembali ke peternakan, mencoba mencari lagi, namun sia-sia. Kaki dan tubuhnya mulai lelah, namun hatinya tak rela menyerah.
Kembali ke warung, ia menjumpai pedagang sembako yang bertanya, "Nyari apa, Mas?"
"Ayamku kurang satu," jawabnya singkat.
"Mungkin sedang bermain di tempat lain, nanti balik," sahut si pedagang mencoba menghibur.
Pemuda itu berusaha menenangkan diri, memainkan ponsel, tapi pikiran dan perasaannya masih gelisah. Saat saudaranya datang menggantikan menjaga warung, ia segera kembali mencari ayamnya.
Kini ia lebih teliti, mengelilingi setiap sudut, bahkan melompati tembok pembatas peternakan untuk memasuki area bekas pabrik pupuk yang penuh reruntuhan dan semak liar. Ia memanggil dengan suara lirih, menelusuri tiap jalan setapak, namun yang ditemuinya hanyalah sepi dan lelah.
Putus asa mulai menggerogoti. Ia kembali ke dapur, mengambil piring untuk makan, tapi nafsu hilang. Ia membiarkan nasi tetap di piring, kembali ke halaman, menangkap dan mengandangkan semua ayam yang tersisa. Tak ingin kehilangan lagi.
Tiba-tiba ia teringat, ia belum menunaikan shalat Dzuhur. Ia bergegas wudhu dan menunaikan shalat dengan hati yang masih bergejolak. Dalam doanya, ia memohon ketenangan dan keikhlasan. Ia merenung, mengapa ayamnya bisa hilang begitu cepat? Baru beberapa jam ia lepas dari kandang, tiba-tiba lenyap tanpa jejak.
Dalam hati ia menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa aku tak lebih menjaga mereka? Kenapa mereka bermain bebas?” Namun, perlahan ia memahami bahwa ayam pun punya naluri ingin menjelajah dan bermain. Mungkin ia yang kurang perhatian.
Dengan hati yang mulai lapang, ia melepas ayam-ayamnya kembali ke area pasar, berharap yang hilang bisa bergabung dengan kawanan. Namun, usaha itu sia-sia. Ia kembali mengandangkan mereka dan memberi makan.
Ketika adzan Ashar berkumandang, pemuda itu menatap kosong ke halaman yang kosong. Ayam yang hilang tak juga kembali. Ia pasrah, menerima kenyataan.
Namun, hatinya tak berhenti bertanya-tanya, apalagi setelah pagi tadi anak entok pun lenyap dengan cara yang sama. Apakah mereka dicuri? Ataukah diterkam binatang buas?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap dalam diam, menemani langkahnya yang kembali ke kesibukan sehari-hari, dengan hati yang belajar untuk ikhlas dan terus berharap.