Aku adalah seorang peternak dan pecinta hewan. Di halaman belakang rumahku, aku merawat beragam jenis hewan. Kehidupan sehari-hariku berpusat di sana, tempatku dengan penuh cermat menjaga kesejahteraan hewan-hewanku. Tidak hanya hewan ternak seperti ayam dan bebek, tetapi juga ikan maupun burung-burung seperti burung perkutut dan burung dara, serta beberapa ekor kucing terlantar.
Di antara berbagai hewan peliharaanku, terdapat dua burung perkutut yang keduanya jantan. Salah satunya telah berada di sisiku selama 3-4 tahun, menjadi teman setia dalam sejumlah perjalanan hidupku. Sementara yang lain, meskipun masih berusia dua bulan sejak aku membelinya dari seorang penjual burung, telah dengan cepat meraih tempat di hatiku. Pada awalnya, aku berniat untuk membeli burung perkutut betina, namun nasib mempertemukanku dengan kejadian tak terduga. Aku tertipu, aku diberi burung yang berkelamin jantan. Meski tak sesuai dengan yang kuinginkan, aku tidak bersedih. Aku tetap akan merawat burung perkutut baruku itu.
Setiap harinya, aku dengan penuh kasih sayang merawat kedua burung tersebut. Aku memberinya makan dan minum, memandikan mereka, serta menjemur di bawah sinar matahari. Tidak hanya itu, aku juga dengan telaten membersihkan kandang tempat mereka tinggal. Usahaku ini membuat keduanya semakin rajin berkicau, terutama burung lamaku yang memiliki suara yang begitu indah. Berbeda halnya dengan burung baruku yang suaranya biasa saja. Aku memang membelinya dari seorang tukang burung keliling dengan harga yang murah, jadi wajar jika kualitasnya kurang baik. Tidak hanya suaranya yang biasa saja, tetapi kondisi fisiknya pun sangat memprihatinkan. Banyak bulu yang rontok dan terdapat luka di bagian sayapnya.
Namun, aku tidak pernah menyerah. Hari demi hari, aku merawat burung tersebut dengan penuh dedikasi. Hasilnya mulai terlihat, bulu-bulu baru mulai tumbuh dan luka-lukanya semakin membaik. Suaranya pun perlahan membaik.
Di suatu pagi, tragedi terjadi. Saat itu jam pukul 5 pagi, selesai shalat subuh aku keluar ke halaman belakang dan berniat mengambil air di tandon air, aku mendapati banyak rontokan bulu-bulu membuatku curiga dan langsung aku mengecek sangkar dan menurunkan sangkar yang kugantung di atas tandon air. Aku terkejut, mendapati seekora kucing di dalamnya. Saat kuangkat ada satu burung perkututku yang tergeletak tak bernyawa. Sedangkan burung lainnya entah kemana.
Aku marah dan mengusir kucing tersebut lalu memberinya pukulan. Meskipun sebenarnya aku merasa simpati padanya, karena dia adalah kucing terlantar yang tinggal di halaman belakang rumahku. Sama seperti kucing-kucing lainnya yang kuberi makan. Namun, rasa frustrasiku tumbuh karena dia telah membunuh burung kesayanganku. Setelah kujatuhkan pukulan kepadanya, dia segera melarikan diri. Aku bermaksud untuk mengubur burung perkututku. Namun, ketika aku meninggalkannya sebentar, jasad burungku malah dicuri oleh kucing lain dan dimakannya. Perasaanku hancur. Sekarang, aku tak hanya kehilangan burung kesayanganku, tetapi juga jasadnya.
Kedua burungku telah tiada, yang satu telah dimakan kucing saat menjadi jasad. Burung satunya aku tak tahu ada dimana, kuperkirakan dia selamat dari serangan kucing dan berhasil kabur. Tapi aku tak berharap dia kembali, karena aku sadar dia belum sepenuhnya jinak seperti burung perkututku yang jasadnya telah dimakan kucing lain, karena ia telah kupelihara selama 3 tahunan. Sedangkan burung yang hilang ini baru 2 bulanan aku pelihara, jadi kalaupun dia selamat aku tidak terlalu mengharapkannya kembali.
Setelah dua hari berlalu dan kesedihanku mulai mereda akibat kehilangan kedua burung perkututku, sebuah kejadian mengejutkan terjadi. Pada salah satu siang hari ketika aku sedang memeriksa ayam-ayamku, mataku tertuju pada sebuah jasad burung yang tergeletak. Saat aku mendekat dan mengamatinya lebih dekat, kagetku tidak terkira: itulah burung perkutut keduaku yang sebelumnya hilang entah ke mana. Aku telah mengira dia selamat, tetapi nyatanya dia telah kembali dalam bentuk yang lebih tragis.
Saat aku menyelidiki lebih lanjut, aku mengenali burung itu dari bekas luka di sayapnya serta bentuk ekornya yang khas. Sama seperti sebelumnya, ia juga telah meninggal dunia. Aku merasa bingung dan sedih, bertanya-tanya bagaimana burung itu bisa berakhir di lokasi yang begitu jauh dari sangkar. Kehilangan yang kedua kalinya membuat hatiku semakin hancur.
Tanpa banyak kata, aku memutuskan untuk menguburkan burung perkututku yang kedua ini dengan penuh perhatian dan kepedihan. Semakin banyak misteri yang mengelilingi kejadian ini, semakin dalam pula rasa duka yang aku rasakan. Dua kehilangan burung perkutut yang tak terduga dalam waktu singkat telah meninggalkan luka yang mendalam dalam hatiku.