Siang itu pemuda peternak sedang menyiapkan pakan untuk hewan ternaknya. Ia mencampur sayuran dan beras jagung yang telah dimasak dengan dedak yang baru saja ia beli. Dengan bak besar, ia mencampur pakan tersebut dan mengaduknya. Keringat yang bercucuran dari wajah pemuda peternak ikut teraduk bersama pakan. Ia mengusap sisa keringatnya dan bergumam "Ya Allah panasnya.."
15 menit berlalu, pakanpun siap dihidangkan pada hewan ternak. Saat itu juga, adzan berkumandang. Pemuda peternak bergegas menangkap beberapa ayam yang ia lepaskan sejak pagi lalu memasukkannya ke kandang. Setelah itu, ia memberikan pakan ke para ayam dan bebeknya. Mulai dari ayam yang diumbar, ayam di kandang bawah dan atas, hingga bebek yang tinggal di kandang umbaran.
Pemuda peternak antusias menyaksikan hewan ternaknya makan. Ia lalu menyiapkan air minum ternak dan memberikan pada ayam-ayam dan bebek-bebeknya. Usai itu, ia segera mengeluarkan sekelompok ayam yang belum dilepaskan. Ayam-ayam itu pun berlarian senang, karena bisa keluar dari kandang. Pemuda peternakpun beranjak dari peternakannya dan segera membersihkan tangan dan kakinya, ia sempatkan juga mencuci wajahnya. Lalu, ia menuju pasar untuk menggantikan saudaranya menjaga warung.
Saat itu warung sepi, karena tidak ada pembeli sama sekali. Hanya ada seorang pedagang sembako yang tidur di bangku sebelah warung yang dijaga pemuda peternak. Namun, keheningan mendadak terpecah ketika ada tetangga pemuda peternak yang memanggil ayam-ayamnya dengan keras. "Yak yak yak yak yak yak...", begitulah ia memanggil ayam-ayamnya. Suaranya yang lantang mengagetkan semua orang, termasuk pedagang sembako yang sedang tertidur yang memang lokasinya dekat dengan si tetangga yang memanggil ayamnya. Suaranya benar-benar lantang, yang mengganggu orang lain.
Mendengar si tetangga yang memanggil ayamnya, ia segera teringat dengan ayamnya yang ia lepaskan tadi usai adzan dluhur. Ia merasa tidak enak, merasa kuatir dengan ayam-ayamnya. Bahkan kekuatirannya bersamaan dengan suara ayam yang sepertinya berteriak. Ia semakin kuatir, ingin melihat ayam-ayamnya namun ia masih berjaga warung. Setelah beberapa menit, hati pemuda peternak semakin kacau, kuatir akan terjadi sesuatu. Iapun tak peduli lagi dengan warungnya dan bergegas menemui ayam-ayamnya.
Si pemuda peternak akhirnya menemukan ayam-ayamnya. Ternyata mereka beristirahat di bawah pohon pisang sebelah kandang bebeknya. Si pemuda peternak merasa lega. Namun tiba-tiba ia merasa janggal, ia merasa ayamnya kurang. Dihitunglah ayam-ayamnya, yang ternyata memang kurang satu, yang seharusnya ada enam ekor, sekarang tinggal lima ekor saja. Iapun mencoba mencari satu ayamnya itu. Ia telusuri area peternakan, yang banyak ayam berlalu lalang, tapi tidak ada ayam yang ia cari. Setiap sudut ia cari tapi tetap saja nihil, ayamnya tak ketemu.
"Nyari apa le?", terdengar suara dari kejauhan yang ternyata adalah suara ibu dari pemuda pemuda.
Si pemuda peternak menoleh dan menjawab "Ini bu, nyari ayam. Kurang satu."
"Itukah?", sambil menunjuk salah satu ayam yang sedang menceker tanah
"Bukan bu."
Iapun bergegas menuju selokan yang tak terpakai, yang memang disanalah biasanya ayamnya mencari makan. Disusurilah got tersebut yang begitu panjangnya. Got yang banyak sampahnya dan sangat bau. Namun, ia tak peduli, yang ia pikirkan hanyalah ayamnya. Bermenit-menit ia menyusuri selokan namun hasilnya nihil. Pemuda peternak tak putus asa, ia lanjut mencari di halaman pasar sambil memanggil ayamnya. Namun hingga ia lelah, ayamnya tak kunjung ketemu. Iapun kembali ke halaman ternaknya dan mencoba mencari lagi, sayangnya tetap saja ayam itu tak ketemu.
Sang pemuda akhirnya putus ayam dan bergegas kembali ke warungnya. Seorang pedagang sembako tampaknya telah melihat pemuda peternak kebingungan mencari sesuatu. Ia bertanya "Nyari apa?".
"Ayamku kurang satu", jawab pemuda peternak singkat.
"Mungkin ia lagi bermain dimana gitu, siapa tahu nanti balik", ujar pedagang sembako.
"Tapi udah aku cari dimana-mana gak ketemu. Ya, semoga aja sih balik nanti", jelasnya. Setelahnya pemuda peternak mencoba tenang dan berpikir positif. Iapun memainkan hpnya.
Belasan menit ia mencoba tenang, namun ia tetap saja kuatir dan ingin segera mencari ayamnya lagi, walaupun sebelumnya udah mencari tapi hasilnya nihil. Setengah jam kemudian, si pemuda peternak merasa lega karena saudaranya datang untuk menggantikan menjaga warung. Dengan begitu, si pemuda peternak bisa mencari ayamnya lagi. Iapun kembali mencari ayamnya lagi di sekitaran selokan dan di halaman ternaknya dengan lebih teliti, tetapi tetap saja tidak ketemu. Iapun kepikiran dengan area luar dibalik tembok pembatas halaman ternaknya. Pemuda peternak langsung melompati tembok dan menyusuri tempat terbengkalai bekas pabrik pupuk yang banyak reruntuhan bangunan juga rumput liar dan pohon-pohon. Sembari memanggil ayamnya "kurkurkurkur, ckckckckck", ia berjalan kesana kemari tetapi hanya rasa lelah yang ia jumpai. Pemuda peternak akhirnya putus asa dan menyerah. Ia melompati dinging pembatas dan bergegas menuju dapur, perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Diambillah piring dan saat akan mengambil nasi, ia merasa tak nafsu makan. Ia tidak jadi makan dan mengembalikan piring ke rak. Pemuda peternak menghampiri ayamnya yang saudaranya hilang dan menangkap mereka lalu memasukkan ke kandangnya, ia takut ayamnya berkurang lagi. Tiba-tiba pemuda peternak teringat, bahwa ia belum shalat dluhur. Iapun berlari menuju kamar mandi dan segera mengambil wudlu. Selesai wudlu ia menengok jam yang sudah jam 2 an. Ia pun berlari lagi dan segera menunaikan shalat.
Usai shalat ia berdoa agar ia diberi ketenangan dan keihlasan atas hilangnya ayam yang begitu cepat. Bagaimana tidak cepat, ia mengelurkan ayamnya di jam 11:20. Tapi di jam 12 an, ayamnya telah berkurang satu. Pemuda peternakpun menyalahkan ayamnya. Kenapa mereka bermain ke area pasar? Kenapa tidak seperti ayam lain yang tetap di area peternakan? Kenapa?? Ia terus saja menyalahkan ayamnya. Tapi akhirnya ia sadar, ayam juga ingin bermain di tempat lain. Justru salah dialah yang kurang memerhatikan ayamnya. Diapun mencoba lebih sabar dan bergegas ke halaman belakang untuk menangkap ayam-ayam yang saudaranya hilang. Setelahnya ia memulai aktivitas seperti biasanya.
Setelah pemuda peternak sudah ikhlas, tiba-tiba ia memiliki ide. Ia melepaskan ayam-ayam yang saudaranya hilang di area pasar, berharap saudaranya ayam yang tak kembali akan segera kembali ke kawanan. Tapi itu sia-sia. Iapun kembali memasukkan ayam ayamnya itu ke dalam kandang yang telah tersedia makanan. Lalu ia memasukkan ayam-ayam lain yang sudah ia umbar sejak jam 9 an pagi. Setelahnya ia mengeluarkan ayam lain yang belum keluar sejak pagi.
Beberapa menit kemudian, adzan penanda dimulainya shalat Ashar telah berkumandang namun ayamnya tak kunjung balik. Akhirnya iapun ikhlas atas hilangnya ayamnya. Namun ia masih tak habis pikir, karena sebelum ayamnya hilang, anak entoknya juga hilang 1 ekor di pagi hari yang kasusnya sama seperti ayamnya, baru saja dikeluarin tiba-tiba hilang dan gak tau apa penyebabnya, apakah dicuri orang atau diterkam binatang buas.